Skip to main content
×

legenda di balik beningnya air di Umbul Manten Klaten

Tak terasa sudah lebih dari 6 tahun, sejak kelulusan saya dan rekan-rekan saya dari bangku perkuliahan, saya tidak menyambangi daerah di sisi utara Kabupaten Klaten. Kabupaten yang menjadi kota, tempat saya dilahirkan. Daerah tersebut bernama Desa Janti, Kecamatan Polanharjo. Sebuah daerah yang berada di sisi utara Kabupaten Klaten dan berbatasan dengan Kabupaten tetangga yakni Kabupaten Boyolali. Agaknya kenangan bersama dengan rekan-rekan saya menjadi alasan bagi saya untuk kembali menyinggahi tempat-tempat dimana kami melepaskan canda, tawa serta merasakan hangatnya tali persaudaraan yang pernah terjalin sampai saat ini.

 umbul manten klaten



Umbul Manten Klaten, sebuah nama tempat wisata di Desa Janti yang mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita yang tinggal di wilayah Klaten dan sekitarnya. Umbul Manten Klaten belakangan ini menjadi sebuah tempat wisata yang difavoritkan khususnya di Kabupaten Klaten berkat banyaknya yang mengunggah foto umbul ini di media sosial.

Pada siang hari yang sangat menyengat di pertengahan bulan April, saya memacu kendaraan bermotor saya melintasi jalan Yogya - Solo dan berbelok ke utara tepat di pertigaan sisi kiri sesudah kantor samsat Kecamatan Delanggu atau sebelum jembatan dekat dengan pasar Tegal Gondo, Wonosari. Saya melewati jalan di tengah area persawahan yang luas. Pemandangan yang ditawarkan seakan memaksa saya memperlambat laju kendaraan ini untuk menikmati suasana pedesaan yang saya jumpai. Suasana pedesaan dimana kita dapat melihat petani menanam padi, melihat peternak bebek yang sedang sibuk mengatur barisan bebek-bebek mereka dan melihat beberapa orang yang sedang beristirahat di tepi sawah sambil menikmati bekal yang mereka bawa dari rumah. Suasana yang seperti ini adalah suasana yang mungkin tidak akan bisa kita dapatkan apabila kita hidup di area perkotaan yang sangat padat.

jalan menuju umbul manten Klaten
jalan menuju umbul manten Klaten

10 km lebih motor ini melaju meninggalkan jalan besar yang menjadi penghubung antara kota Yogyakarta dan Solo, sampai saya memasuki desa dengan gapura yang bertuliskan " Kawasan Wisata Janti " seolah tulisan tersebut menegaskan bahwa kita sudah masuk daerah yang terkenal dengan obyek wisata mata air serta kolam pemancingannya ini. Tidak sampai 2 km sayapun sudah sampai di Umbul Manten Klaten yang berada tepat di sisi kanan, jalan Janti-Tegalgondo.

Sebuah tembok dengan tinggi kurang lebih 4 meter menutupi umbul manten seolah menyembunyikan keindahannya mata air ini dari pandangan mata. Barulah setelah memasuki sebuah pintu masuk kita dapat melihat betapa eloknya pesona yang ditawarkan Umbul Manten ini. Sebuah kolam alami dengan air yang sangat jernih berada di antara pepohonan tinggi menjulang seakan menjadi oase tersendiri di tengah hari yang sangat terik. Sekelompok pemuda terlihat sedang asik berenang di tengah umbul dan beberapa diantaranya terlihat bersantai serta berhammocking ria pada pepohonan yang tumbuh di sekitaran Umbul Manten.

Sejuknya kawasan Umbul Manten Klaten


Setelah membayar biaya masuk saya tidak lantas segera menanggalkan baju yang saya kenakan untuk langsung berenang di area Umbul Manten, melainkan duduk di kursi kayu yang disediakan dan berbincang-bincang pada salah seorang bapak penunggu mata air dimana saat itu, beliau sedang membersihkan jala ikan miliknya. Dari beliau saya mendapatkan informasi mengenai penamaan Umbul yang kita kenal saat ini sebagai Umbul Manten.

Legenda umbul Manten Klaten

Asal-usul Umbul Manten Klaten tidak lepas dari cerita rakyat atau legenda tentang sepasang pengantin yang hilang di daerah ini. Konon terdapat sepasang pengantin yang melanggar kebiasaan dengan keluar rumah bersama sebelum 40 hari setelah pasca hari pernikahan mereka. Kebiasaan di tempat itu pada Jaman dahulu memang mewajibkan pasangan pengantin untuk tidak keluar rumah bersama sebelum melalui 40 hari pasca pernikahan. Namun karena suatu hal, di  suatu petang, pasangan pengantin itu melanggar wejangan dari penatua dan pergi keluar rumah bersama. Keduanya berjalan dekat dengan sebuah mata air atau umbul. 

Terdapat banyak pohon besar yang tumbuh di kawasan Umbul Manten Klaten


Diceritakan sang suami berjalan di depan dan diikuti oleh isterinya di belakang, saat menoleh ke sisi belakang, sang suami tidak melihat lagi isterinya mengikutinya serta lenyap begitu saja dari pandangan mata, diantara hari yang mulai gelap. Mengalami nasib sama ketika sang isteri melihat kedepan, tiba-tiba sang suami lenyap dari pandangan matanya dan hilang di sekitaran mata air tempat dia berdiri. Hingga saat tidak ada yang mengetahui keberadaan pasangan pengantin itu. Oleh masyarakat umbul yang menjadi tempat dimana pasangan pengantin tersebut menghilang lantas dinamakan umbul manten atau mata air pengantin.

.............................


Umbul Manten Klaten menurut legenda yang berkembang di masyarakat diibaratkan sebagai tangisan sepasang pengantin yang harus berpisah. Tangisan 2 orang yang saling mencintai dan dipisahkan keadaan yang diakibatkan oleh perbuatan mereka sendiri, melanggar peraturan serta kebiasaan yang ada di dalam masyarakat setempat. Dari cerita tentang asal-usul Umbul Manten, kita dapat memetik pelajaran untuk bisa menahan diri dengan mematuhi kebiasaan yang ada dan diyakini baik oleh masyarakat.

area kolam ikan

Berada di area Umbul Manten Klaten membuat kita seolah-olah berada pada suatu kawasan hutan pedalaman. Pohon yang tumbuh di sekitaran tempat ini memiliki akar yang besar serta dapat kita lihat dari atas permukaan air. Semula banyak yang mengira bahwa pohon besar yang tumbuh di tempat ini merupakan pohon beringin raksasa. Namun, menurut penuturan salah seorang petugas yang berjaga disana pohon tersebut adalah pohon ipik dan bukan merupakan pohon beringin. Air yang keluar di Umbul Manten sangat jernih. Bagian dasar umbul manten merupakan tanah dengan pasir halus dan dikelilingi oleh bebatuan. Air yang berasal dari umbul ini kemudian dialirkan pada parit yang mengalir di sebelahnya untuk digunakan masyarakat guna mengaliri kolam-kolam ikan dan beberapa menggunakannya untuk mengaliri sawah mereka.   


Fasilitas yang ada di Umbul Manten


Kondisi Umbul Manten Klaten saat ini berbeda dengan kondisi 6 tahun yang lalu, dimana dahulu area ini masih sepi oleh pengunjung. Saat ini kawasan umbul Manten sudah banyak pengunjung yang berasal baik itu dari daerah Klaten ataupun daerah luar Klaten yang sengaja datang jauh-jauh untuk melihat keindahan yang ditawarkan umbul yang memiliki 2 kolam utama ini. Beberapa fasilitaspun mulai ditambahkan seperti area parkir disertai dengan pos penjagaan, warung makanan yang berada di sisi barat umbul, toilet serta sebuah mushola sederhana yang sengaja dibuat bagi pengunjung yang hendak menunaikan ibadah sholat.

Di sisi selatan dari umbul Manten juga disediakan kolam dengan ukuran yang cukup besar bagi pengunjung yang ingin merasakan terapi ikan. Terdapat puluhan bahkan ratusan ikan kecil-kecil di dalamnya yang siap menggigit, memberikan sensasi serta dianggap layaknya pijatan relaksasi. Di kawasan sekitar umbul Manten Klaten, kita juga bisa menjumpai umbul-umbul lainnya seperti Umbul Pelem yang letaknya tidak jauh dari umbul manten dan beberapa umbul kecil yang berada di sisi utara dari Umbul Pelem. Rata-rata umbul tersebut dimanfaatkan airnya oleh warga untuk keperluan mandi dan mencuci.

Di balik keindahannya yang menawan ternyata Umbul Manten Klaten menyimpan legenda yang sarat akan makna. Cerita rakyat yang berkembang di tengah masyarakat merupakan sebuah kekayaan tersendiri bagi suatu daerah dan menambah daya tarik bagi orang lain untuk datang mengunjunginya.

" Bagaimana, tertarik mengunjungi Umbul Manten Klaten ???"


Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Legenda pariwisata Jawa Tengah 2017 yang diselengarakan oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar